Minggu, 13 Maret 2011

Posted by JUMBO JAYA PERKASA 05.16, under | No comments

Kali ini atas saran dari seorang teman di Group di facebook,kami mengangkat sebuah kisah yang semoga menjadi inspirasi bagi banyak orang yang membaca.
Mengangkat judul"Menggapai  Mimpi Dalam Sebuah  Keterbatasan 'tentu terdengar agak unik dan mungkin salah satu pembaca sudah dapat menebak apa dan bagaimana yang bakal kita bahas kali ini.
Betul sekali,kali ini kami ingin membahas bagaimana sebuah keterbatasan itu tidak selamanya menjadi masalah atau dianggap sial,tapi juga bisa menjadi berkah bahkan sumber penghasilan dan lain sebagianya.
Sebenarnya ini sangat berkaitan juga dengan artikel kami sebelumnya yang membahas AUTIS tapi untuk kali ini kami lebih memperluas cakupan dan materi nya.
Keterbatasan tidak hanya dalam mental seperti yang terjadi pada anak yang menderita gangguan mental ataupun autis dan sejenisnya.
Keterbatasan yang lebih konkrit seperti cacat bawaan,kehilangan bagian tubuh tertentu,ketidaklengkapan pada diri dan lain sebagainya adalah masuk golongan yang akan kita bahas untuk kali ini.
Untuk lebih jelas mari kita bedah lebih dalam dalam artikel bawah ini.
        Semua manusia yang lahir pastilah akan memilih diberikan sempurna ,itupun kalau diberi pilihan tapi kita tidak dapat mengganggu gugat apa yang telah diberikan kepada manusia sejak lahir.
Tuhan melahirkan manusia dengan sempurna atau pun tidak sempurna bukan tanpa alasan dan hikmah didalamnya yang harus digali lebih dalam oleh manusia itu sendiri.
bagi mereka yang sempurna secara fisik pun belum tentu merasa dirinya sempurna seutuhnya,kadang ketidak sempurnaan ada pada diri mereka sendiri secara psikis ataupun hal lain yang menjadi bagian hidup mereka sendiri.
Tapi sementara ini kami akan membahas bagi mereka yang lebih kekurangan secara fisik dan mental dahulu secara pendek.
bagi mereka yang mendapatkan kekurangan dalam hal fisik,mungkin tuhan telah merencanakan lain pada mereka,terutama yang bagi lahir agar mereka menemukan apa yang menjadi jalan hidup mereka nantinya.
Sedangkan bagi yang mendapatkannya tidak dari lahir,dapat dikatakan itu adalah ujian dan semoga diambil hikmah dibaliknya dan sama pula ada rencana agar mereka menemukan kebaikan didalamnya.
Kadang kita tidak harus melihat suatu kekurangan hanya dari apa yang mejadi kekurangan mereka,tapi coba kita lihat lebih dalam pada diri mereka.
Secara,mereka yang kekurangan kebanyakan malah memiliki semangat dan mentalitas yang lebih kuat ketimbang mereka yang normal secara fisik atau mental.
bahkan tak jarang mereka memiliki bakat khusus yang tidak dapat dimiliki kita yang normal secara fisik.
Lihat saja bagaimana yang kita lihat sekarang ini,
Heni candra IGT dan Fierza mamamia yang ampuh di vokal padahal mereka tidak mampu melihat dunia seperti kita yang normal,tapi mereka melihat dengan hati mereka.
ada juga yang kehilangan kakinya malah menciptakan kaki palsu yang dapat dipakai secara masal dan masih banyak lainnya.
bahkan yang gangguan mental pun masih bisa berprestasi diajang nasional ataupun internasional.
mereka tidak melihat kekurangan sebagai alasan untuk menyerah.
Mereka menjadikan kekurangan itu sebagai hal yang memacu semangat dalam diri.
Dilihat dari masa lalu pun,banyak dari Ilmuan terkenal dan para penemu yang memiliki cacat mental ataupun fisik.
Ini menjadi bukti sebenarnya hanya pandangan saja yang menutup kita dari mereka,selain itu nyaris kita adalah sama saja.
Manusia,siapapun memiliki hak untuk berkreasi dalam hidup mereka.
Setiap manusia tidak memiliki batasan dalam menggali kemampuan mereka untuk lebih maju asal dalam lingkungan norma dan rtika yang ada.
Sebagai salah satu bukti bagaimana kreasi dan kemampuan manusia begitu mengagumkan dapat anda lihat petikan dari majalah Kompas yang direkomendasikan teman kami di Youngbees Mania ,berikut salah satu potongan dalam artikel tersebut.
          "Kesulitan mereka untuk belajar sama sekali bukan disebabkan tingkat kecerdasan yang rendah. Marie Fauzan (13) yang kini duduk di bangku kelas I sebuah SMP di pinggiran Jakarta, misalnya, sudah lima kali dikeluarkan dari sekolah-sekolah sebelumnya. Padahal, IQ-nya mencapai 120 atau di atas rata-rata.

Anak-anak ini berbeda dan berkebutuhan khusus, tetapi mereka juga kaya akan potensi. Brandon (9) yang kata ibunya sangat bandel, misalnya, bisa membaca buku atau majalah dalam bahasa apa pun dengan mata tertutup kain tebal. ”Membaca” dengan rabaan tangan itu merupakan salah satu kemampuan Brandon yang juga sering disebut sebagai anak indigo.

Brandon pula yang mencengangkan para undangan di acara temu anak spesial ini dengan ceramahnya dalam dua bahasa tanpa teks.

”Apa teman-teman pernah membayangkan apa jadinya kalau alam semesta dan semua yang ada di dalamnya hanya berwarna merah? Tentu tidak indah. Pelangi saja punya banyak warna, musik punya banyak nada, jari-jari kita pun tidak sama. Kami juga berbeda, tetapi kami punya banyak bakat,” ujarnya.

Penampilan Young Boys juga tak kalah mengagumkan. Empat remaja: Andreas, Kenan, Yongki, dan Clyde, yang bergabung dalam kelompok ini bukan sekadar pemain piano, mereka juga komposer dan arranger. Mereka bukan hanya berprestasi di ajang nasional, melainkan juga mengukir prestasi hingga ke luar negeri.

Di Gedung Bentara, keempat remaja ini memainkan dua piano yang ditata saling membelakangi. Lantunan lagu klasik hingga tradisional Jawa disajikan dengan sangat atraktif. Misalnya, mereka memainkan tuts piano sambil bertukar posisi, bahkan sambil berdiri dengan masing-masing tangan memencet tuts di piano berbeda.

Jalan untuk menemukan dan mengasah mutiara memang tidak pernah mudah. Selalu ada kekhawatiran membayangi orangtua ketika anaknya dikategorikan berkebutuhan khusus.

Aji yang mempunyai dua anak berkebutuhan khusus, misalnya, tak luput dari kesedihan ketika kedua anaknya didiagnosis begitu. Namun, ia menyadari Tuhan tak salah mengamanatkan dua anak istimewa itu kepadanya.

”Dua bintang kan pangkat yang lebih tinggi dari satu bintang,” ujarnya berkelakar.

Begitulah sumber yang kami ambil dari harian kompas yang mengangkat tema "Mutiara dalam cangkang "yang memberikan gambaran kepada kita bahwa keterbatasan adalah sebuah tantangan hidup dan hanyalah sebuah kerikil kecil di jalan yang harus dilalui dan dijadikan pemacu hidup dan pembuktian kalau mereka mampu.
Semoga artikel ini berguna dan menjadikan inspirasi bagi semua anak di dunia dan di Indonesia pada khusus nya.
Kita adalah sama ,hilangkan pandangan yang buram yang membatsi kita dari mereka,jadikanlah diri kita manusia yang saling memberikan semangat satu sama lain dan semoga ke depan Indonesia mampu menjadi negara penuh prestasi,bukan hanya bagi mereka yang sempurna fisiknya tapi juga teman - teman kita yang tak sempurna secara fisik,dan berikan peluang yang sama pada mereka karena mereka adalah anak bangsa pula.
Sekian dari kami dan sampai jumpa lain waktu,terima kasih.
reported By Media Anime and Portal news.

Antara Kami Anak Bangsa, Pemerintah dan Pendidikan

Posted by JUMBO JAYA PERKASA 05.14, under | No comments

KabarIndonesia - Krisis ekonomi dan krisis finansial seperti yang terjadi pada tahun 1998 dan 2008 pada umumnya dapat dirasakan dan disadari langsung oleh masyarakat indonesia. Namun mereka kurang menyadari krisis yang justru memiliki berdampak lebih besar dan terstruktur, yaitu krisis pendidikan. Krisis pendidikan di Indonesia semakin parah justru setelah Indonesia berdemokrasi dan bebas memilih apa yang terbaik untuk rakyat dan lepas dari belenggu kediktatoran.

Tidak seperti krisis ekonomi, krisis pendidikan ini berimplikasi pelan tetapi pasti dan sangat kuat dampaknya pada struktur sosial di masa depan. Bidang utama krisis pendidikan adalah sistem pendidikan yang mengadopsi sistem pasar dan konsep efisiensi privat atau perusahaan swasta yang dibawa pada ranah pendidikan yang bersifat publik. Sistem ini sebenarnya sudah melecehkan konstitusi yang menempatkan Negara sebagai pihak yang berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa.

Penghayatan terhadap totalitas konstitusi sebagaimana dirumuskan oleh para pendiri bangsa, konstruksi sosial masyarakat yang sudah terkapitalisasi, dan ketidakcukpan pemaknaan yang lebih tegas, banyak melahirkan peraturan dan perundangan yang membawa ideologi yang sama sekali tidak dikehendaki oleh pendiri bangsa ini. Bahkan ketika konstitusi mengamanatkan dengan jelas alokasi anggaran untuk pendidikan, masih banyak dimaklumi pemunduran penerapannya. Bahkan ketika kesempatan itu ada, maka implementasi alokasi anggaran masih serabutan dan tidak jelas arahnya.

Ideologi dasar sistem pendidikan Indonesia saat ini tak lain adalah ideology neo-liberal murni, meski masih dibatasi oleh kondisi social. Artinya kerangka dasar sistem pendidikan Indonesia adalah ideology neoliberal dengan penyesuaian-penyesuaian kecil yang terlihat peduli pada hak-hak dan beban social masyarakat. Jadi perhatian pada hak rakyat atas pendidikan hanya ditempatkan sebagai kendala yang dipenuhi agar sistem utama dapat berjalan.

Dalam sistem pendidikan seperti ini pendidikan ditempatkan sebagai komoditas, peranan pemerintah diminimalisasi dengan berfokus pada control kurikulum dan standar melakukan desentralisasi kepada pemerintah daerah atau dengan kata lain negara melempar kewajibannya pada entisan politik lokal.

Guru, dosen, dan profesi pendidik dininabobokan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa atau dengan kata lain ditempatkan dalam status ekonomi dan kondisi kerja yang rendah. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan seperti kenaikan gaji yang tidak signifikan dan tidak merata atau sistem sertifiikasi yang tidak masuk akal memperkuat asumsi ini.

Indikasi ini dapat dilihat pada semua level pendidikan, dari tingkat dasar sampai pendidikan tingkat tinggi. Pada sekolah dasar tingkat menengah, kesenjangan pada sekolah-sekolah negeri sangatlah tinggi. Ada sekolah yang kaya dan ada sekolah yang miskin. Status sekolah menjadi tergantung kondisi social ekonomi muridnya, padahal setiap kepala di Negara ini memiliki hak yang sama dalam menerima pendidikan. Ada sekolah roboh, ada sekolah yang megah, padahal semua sekolah milik pemerintah kenapa terjadi perbedaan, bahkan di dalam sekolahpun dibedakan, ada yang masuk rintisan sekolah bertaraf internasional dan ada sekolah yang biasa saja. Yang satu ber-AC dan berbahasa inggris, yang satu berkeringat dan berbahasa Indonesia.

Mengapa ada rintisan sekolah bertaraf internasional? Ini adalah wujud ketidakpercayaan diri pada sekolah nasional atau inferioritas sebagai bangsa. Kalaupun sekolah bertaraf internasional ini dianggap memiliki kualitas yang lebih baik kenapa tidak dijadikan standar nasional untuk semua lini di pendidikan, kenapa diperuntukan hanya untuk kelompok tertentu?

Diskriminasi tidak terjadi hanya ketika kita akan masuk sekolah yang tersaring dengan tariff mahal, akan tetapi dalam proses di dalamnya pun terjadi diskriminasi lanjutan. Pada tingkat pendidikan tinggi, universitas besr dijadikan BHMN (badan hukum milik Negara), sekarang sedang menuju BHP (badan hukum pendidikan).

Sekolah dan perguruan tinggi didesainn agar berpikir dan bergerak secara swasta, dengan sebuah asumsi dasar swasta lebih baik dari public atau pemerintah.

Ketidakadilan structural adalah fenomena yang nyata dalam sistem pendidikan di Indonesia. Memang sekarang masyarakat dihadapkan pada banyak pilihan dalam pendidikan dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, akan tetapi pilihan itu terletak pada kemampuan membayar. Ini dimulai dengan tingginya uang masuk sekolah disemua tingkat pendidikan baik negeri maupun swasta. Akhirnya orang kaya masuk sekolah swasta yang mahal atau sekolah negeri yang mahal yang dikelola secara swasta. Sedangkan orang miskin harus masuk sekolah-sekolah negeri atau swasta yang jelek termasuk masuk pesantren yang murah, atau mereka sama sekali tidak meninkmati pendidikan itu.

Struktur pendidikan seperti ini adalah struktur yang diskriminatif dan tidak adil, bahkan dapat dikatakan sebagai “aducation apartheid” atau suatu sistem pendidikan yang memisahkan kelompok masyarakat. Sistem pendidikan seperti ini tidak bisa menjadikan pendidikan berkualitas baik dan merata. Orientasi siswa dan pengajar menjadi berubah, pendidikan hanya menghasilkan tukang yang mensuplai kebutuhan-kebutuhan perusahaan-perusahaan.

Sementara itu pendidikan yang tidak menjadi subsistem atau elemen pasar menjadi tersingkir. Pendidikan tradisional seperti pesantren terpinggirkan atau sengaja dipinggirkan dan mati perlahan-lahan. Moderenisasi yang tidak berakar pada tradisi, dan pengabdian pada “kumpeni” (company) terus digalakan. Pesantren suatu saat akan menjadi sebuah nama, dan bahkan tidak dikenal sama sekali.

Lebih sederhananya adalah, sekolah-sekolah madrasah swasta yang sangat minim mendapat perhatian dari semua unsure/instansi penunjang. Berbeda dengan perhatian yang diberikan oleh pemerintah kepada sekolah-sekolah madrasah yang setatusnya negeri. Hal ini dapat menjadikan mutu serta kualitas pendidikan yang tidak berimbang, serta berdampak pada ketidakadilan dalam mendapatkan hak pendidikan yang sama, yang masuk ke dalam "UNDANG-UNDANG DAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN."

Tidak ada satu Negara pun yang mengabaikan pendidikan sebagai unsure pembangunan peradaban suatu bangsa. Hamper dapat dipastiakan semua meyakini itu. Tapi di Indonesia mengalami kendala tersendiri dalam hal sumber daya dan infrastruktur pendidikan. Hal ini mungkin terjadi seiring dengan pembangunan bangsa yang secara umum belum merata, namun tetap saja seharusnya pemerintah bisa memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia tidak peduli itu sekolah negeri atau swasta, di kota atau di desa, karena hal tersebut merupakan tugas dan kewajiban pemerintah.

Indonesia pada kurun waktu terkini mengalami degradasi yang signifikan dalam hal pendidikan, bahkan pendidikan di Indonesia yang diinsafi sebagai wahana sosialisasi moral mengalami kemerosotan pada tulang sendi pembangunannya. Dan hal ini telah berimbas pada rendahnya kualitas pendidikan di banyak daerah di Indonesia.

Kita masih menunggu dimana semua rakyat Indonesia bisa mendapatkan pendidikan dengan kualitas yang seharusnya, dan rakyat Indonesia bisa berbangga dengan sistem pendidikan di negerinya sendiri, yang dimana bisa mencerdaskan putra-putri bangsa tanpa memeras keringat dan darahnya, tidak ada perbedaan dalam pendidikan dan tidak ada lagi diskriminasi dalam pendidikan, semua memiliki hak yang sama sebagai warga Negara Indonesia. Kita masih menunggu dimana pemerintah bisa lebih arif dan bijaksana dalam menangani krisis pendidikan ini, dimana pemerintah seharusnya lebih lebih peduli dan lebih tulus menjalankan kewajibannya dalm mencerdaskan anak bangsa. Sejuta harapan kita sampaikan kepada pemerintah, kita yakin jika pemerintah bisa.

Revolusi PSSI

Posted by JUMBO JAYA PERKASA 05.09, under | No comments

Beberapa hari yang lalu tim verifikasi bakal calon Ketua Umum PSSI memutuskan bahwa George Toisutta dan Arifin Panigoro gagal maju dalam pemilihan lantaran terganjal beberapa statuta PSSI. Sementara dua calon lainnya Nurdin Halid dan Nirwan D. Bakrie melenggang.
Dua nama terakhir pada periode 2007-2011 ini adalah pasangan ketua dan wakil. Sudah tentu mereka juga yang paling bertanggungjawab atas mandeknya prestasi timnas Indonesia dan berbagai kasus yang menodai kompetisi sepakbola kita, selain Noegraha Besoes tentunya, yang sudah bercokol di kepengurusan PSSI sejak 1983.
Berbagai kelompok suporter sudah menyatakan diri untuk membuat gerakan “Revolusi PSSI” yang tujuannya adalah untuk membuat otoritas tertinggi sepakbola Indonesia bisa lebih baik tanpa campur tangan Nurdin Halid dan kroni-kroninya yang sudah terbukti gagal namun masih memiliki hasrat untuk memimpin PSSI kembali.
Selasa (22/02) yang lalu, kelompok Save Our Soccer (SOS) di Jakarta berkumpul di KPK dan akan menduduki kantor PSSI Pusat di Senayan. Suporter Aceh juga melakukan demo di Banda Aceh. Pecinta bola di Solo menggelar aksi Revolusi PSSI dan menentang pencalonan kembali Nurdin Halid. Suporter bola di Semarang bahkan menginjak-injak foto NH sembari mengecam PSSI.
Di Tugu Jogja dan di nol kilometer hari ini terdapat berbagai elemen pecinta bola yang menggelar unjukrasa menentang NH dan desakan untuk merevolusi PSSI.
Sudah saatnya kita bergerak. Yang di daerah tak perlu terbang ke Jakarta. Kita bisa menyuarakan sekaligus mengintimidasi Pengda PSSI daerah masing-masing yang sudah jelas mendukung pencalonan kembali Nurdin Halid agar mencabut dukungan mereka. Sepakbola Indonesia perlu pembaharuan untuk menuju masa yang lebih baik.
Mengutip perkataan mbak Alissa Wahid di account twitternya @AlissaWahid “Bertindak belum tentu menyelesaikan semua. Tapi tidak bertindak sudah pasti tidak menyelesaikan apa-apa”. Ayo kawan, saatnya kita BERGERAK MEREVOLUSI PSSI.

Nurdin Halid Turun dari Jabatan Ketua PSSI

Posted by JUMBO JAYA PERKASA 05.08, under | No comments

Pak SBY, Nurdin Halid Harus Turun dari Ketua PSSI! - Mungkin itulah pesan dari puluhan ribu suporter Indonesia yang memadati Gelora Bung Karno saat partai Indonesia VS Uruguay, Jumat 8 Oktober 2010. Presiden SBY didampingi Menpora Andi Malarangeng menonton langsung pertandingan tersebut ditemani juga Nurin Halid. Ya, disepanjang pertandingan teriakan “Nurdin Turun.. Nurdin Turun!” bergema di Stadion GBK. Bahkan sudah dari awal sebelum kick of dilakukan. Tampaknya ini menjadi momen yang tepat bagi suporter untuk menyampaikan aspirasi terkait masa depan persepakbolaan Indonesia.
Dalam aturan FIFA, pemerintah memang tidak boleh terlalu ikut campur dalam PSSI, tapi setidaknya presiden dan Menteri Olahraga punya kapasitas untuk menekan ketua PSSI tanpa unsur intervensi untuk lengser demi kebaikan sepakbola Indonesia secara umum. Fakta berupa rangkaian prestasi buruk timnas Indonesia dan berbagai event sepakbola tanah air yang kualitasnya tidak juga meningkat bisa menjadi alasan.
Saya yakin anda pun sudah tahu betulseperti apa kualitas kepemimpinan Nurdin Halid di PSSI. Saya pribadi setuju jika Nurdin memang harus lengser dari kursi ketua PSSI. Menyerahkannya pada orang yang lebih kompeten dan tentu dapat membawa perubahan yang positif untuk perkembangan sepak bola Indonesia kedepan.

KISAH PARA KORUPTOR

Posted by JUMBO JAYA PERKASA 05.03, under | No comments




Cerita Tentang korupsi bukan hal yang biasa di negeri ini. Tapi korupsi yang melibatkan ‘orang-orang baik’ telah menjadi penyakit yang menggerogoti manusia dalam kehidupan sehari-hari. Korupsi sekali lagi mebutakan para pejabat, penguasa dan mereka yang berlabel orang baik. Bahkan di lingkup kampus (mahasiswa, birokrat) praktek haram ini biasa juga terjadi secara kecil-kecilan. Walau untuk mengungkapnya butuh investigasi yang mendalam.
Berasal dari bahasa Latin corruptio, dari kata kerja corrumpere yang artinya busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok. Transparency International mendefenisikan korupsi sebagai perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Sedangkan koruptor adalah orang yang melakukan kegiatan itu.

Inilah yang terjadi pada beberapa wakil rakyat di DPR. Prilaku korupsi telah merajalela dan terjadi secara sistematis. Suap menyuap demi kelancaran proyek menjadi sesuatu yang dianggap lumrah/lazim dan tak melanggar norma dan pranata sosial. Jadi, mungkin ada benarnya jika seorang bupati/walikota ingin mendapat dana, mesti menyiapkan ‘mahar’ sebagai uang pelicin kepada oknum anggota dewan minimal Rp 500 juta. Sama halnya dengan seorang pengusaha yang ingin memegang proyek di suatu daerah, maka milyaran rupiah mesti disiapkan.
Setelah anggarannya disetujui, maka tambahan fulus pun akan mangalir ke kantong-kantong para wakil rakyat tersebut. Aneh bin ajaib, mungkin ini yang disebut mencuri uang (rakyat) di rumah sendiri dan mereka (koruptor) dikenal sebagai tikus dalam karung.
Akibat prilaku para koruptor tersebut membuat negeri ini terpuruk dan berada pada posisis buntut sebagai negara terkorup. Di Asia, Negeri ini bersama Bangladesh adalah negara terkorup. Parahnya lagi, dari semua kasus korupsi, lembaga legislatif (parlemen) menjadi institusi paling korup. Slank pun merilis lagu untuk menyinggung para wakil rakyat di gedung dewan tersebut. ”Mau tau gak mafia di Senayan? Kerjanya tukang buat peraturan. Bikin UUD, ujung-ujungnya duit.” Begitulah slank mengilustrasikan kerja para anggota dewan. Ironisnya, sebagian wakil rakyat yang merasa tersinggung inign menuntu grup musik tersebut. Namun tak lama setelah itu politisi senayan, Al Amin Nasution (PPP) tertangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akibat kasus suap. Seperti kotak pandora, kasus itu kemudian menjadi bola salju yang jadi pemicu terungkapnya kasus suap lainnya di parlemen.
Walhasil, satu persatu para koruptor di DPR itu mulai ditangkap KPK. Hamka Yandhu (Partai Golkar), Anthoni Zeidra Abidin (Partai Golkar), Sarjan Tahir (Partai Demokrat), Bulyan Royan (Partai Bintang Reformasi). Sementara itu dari data ICW disebutkan terdapat 1.437 anggota DPRD dari seluruh Indonesia telah diproses hukum akibat kasus korupsi. Akibat kasus ini, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga legislatif mengalami penurunan.
Para wakil rakyat ini memang seperti serigala yang rakus, tak pernah jera dan belajar dari kasus yang menimpa rekan sejawatnya. Pembangkangan terhadap Tuhan kembali dilakukan oleh Abdul Hadi Jamal (PAN). politisi ini ditangkap KPK bersama sejumlah uang hasil suap di mobilnya. Pada kasus ini AHD cukup sial dan tak punya malu, pasalnya beberapa hari sebelumnya para pimpinan partai politik menadatangani deklarasi anti korupsi. Sungguh terlalu.
Para koruptor selalu dikisahkan dalam setiap lakon sebagai orang baik. Namun dibalik itu mereka tak bisa berbuat benar, Sepandai-pandai menyimpan keburukan, suatu saat akan tercium juga. Lalu akhirnya mereka mendekam di bui dan dikucilkan dari masyarakat. Sigmound Freud mengatakan bahwa korupsi terjadi karena faktor kepribadian. Dalam hal ini yang dimaksud adalah sifat rakus, berorientasi pada kenikmatan dengan menambah materi.
Begitu juga dengan Abdul Rahman Ibnu Khaldun (1332-1406) yang mengungkapkan faktor utama korupsi adalah hawa nafsu untuk hidup mewah dalam kelompok yang memerintah.
Kebudayaan kita memang tak seperti di Jepang, masyarakatnya melakukan Harakiri apabila telah berbuat malu demgan menjadi koruptor. Begitu juga di Cina yang mengharuskan hukuman mati buat para pencuri uang rakyat. Tapi masyarakat Bugis-Makassar memiliki nilai siri na pacce sebagai prinsip yang mengatur kehidupan. Apabila itu dilanggar, maka harga dirinya akan hilang. Ironisnya, koruptor mungkin telah melupakan nilai itu. Sebab mereka tak merasa malu atau berdosa jika mencuri uang rakyat.
Seorang teman saya pernah berujar jika koruptor bisa dikategorikan politisi busuk. Penampilan mereka harum, tapi kemana-mana bawa sampah dan secara moralitas menghawatirkan.
Ismawan As
Mahasiswa Unhas 2003


ShoutMix chat widget

Mau punya buku tamu seperti ini?
Klik di sini (Info Blog)

Tags

Mengenai Saya

Prambon, Sidoarjo
Saya seorang siswa SMPN 1 Prambon,ada di kelas IX-G nomer absen 19.. moto saya "KEGAGALAN ADALAH AWAL DARI SEBUAH KEBERHASILAN"... STOP KORUPSI!!!!!!!! KOLUSI!!! NEKOTISME!!! Dan ANTI ANARKISME!!!! ^_^ Mas bro Anti anarkisme... PISSSSsssz... Man..